Dunia perbankan memegang peranan yang penting dalam perekonomian Negara ini. Hal ini terkait dengan fungsi yang dimiliki oleh bank itu sendiri sebagai lembaga intermediasi. Dimana bank menyimpan  DPK (Dana Pihak Ketiga), yang hasilnya akan kebali diputar untuk menggerakan perekonomian. Kondisi yang bermasalah adalah ketika bank cenderung mengeluarkan uang dari sistem yang ada. Hal ini mengakibatkan supply uang yang beredar di masyarakat menjadi berkurang sehingga mengakibatkan hambatan pada aktivitas perekonomian.

Hal ini didukung oleh suku bunga SBI yang terkadang lebih tinggi daripada bunga deposito. SBI itu sendiri tujuan awalnya adalah untuk menjaga agar nilai rupiah tidak terlalu besar dan untuk menanggulangi inflasi. Kaitannya yaitu bank cenderung membeli SBI karena return yang akan didapat lebih besar daripada bank menginvestasikan uang yang ada. Selain itu, menyimpan dana di SBI tidak ada resiko, berbada halnya ketika menggulirkan dananya pada sektor riil yang cukup memiliki banyak resiko. Dapat dikatakan ketika BI menjual SBI dan bank membeli SBI maka sedang terjadi kontraksi dalam perekonomian. Jadi dapat dikatakan, pembiayaan justru dilakukan oleh tabungan Negara. Padahal harapannya adalah uang yang ada justru beredar di sektor riil.

Hal lain yang menghambat perekonomian ini adalah ketika perbankan justru memberikan suku bunga kredit yang cukup besar kepada kalangan menengah kebawah. Dalam hal ini pada usaha mikro, kecil dan menengah. Hal ini terlihat dari data yang saya dapatkan yaitu, kredit untuk korporat sebesar 12% sedangkan untuk UKM sebesar 24% (InfoBank).  Ini menunjukan kredit dengan nilai besar lebih mudah dan murah sedangkan kredit dalam jumlah kecil cenderung lebih susah dan mahal.