Riba telah ada sejak dulu. Hal ini terbukti dari ditemukannya sistem kredit yang sistematik  dan mengandung unsur riba pada masa kejayaan Sumeria (tahun 3000-1900SM). Pada masa tersebut suku bunga terhadap bahan makanan (gandum) sebesar 33.33% setahun. Sedangkan untuk uang berupa perak sebesar 20% setahun. Pada zaman Babylonia (1900-732 SM) terdapat suatu peraturan yang dikeluarkan oleh raja Hamurabi yang menguatkan tingkat suku bunga yang berlaku pada masa Sumeria sebagai tingkat bunga yang sah menurut undang-undang babylonia. Ketentuan tersebuat berlaku hingga hampir 1200 tahun. Praktik riba ini berlangsungterus pada zaman Assyria (732-655 SM), Neo-Babylonia(625-539 SM), Persia (539-333 SM), Yunani (500-100 SM) dan romawi (500-90 SM). Selain itu terdapat bukti-bukti yang menunjukan bahwa pinjaman yang diberikan  oleh para penguasa eropa pada masa lalu khususnya oleh raja-raja berdasarkan sistem riba.

Dari fakta diatas, tidak heran jika praktik perbankan yang berkembang sejak abad ke-16, tidak terlepas dari riba. Akibat terlalu lama dan mendalamnya sistem ribadalam sistem perbankan ini menyebabkan hal tersebut sangat sukar dipisahkan. Bahkan telah berakar kuat dalam kerangka berpikir para bankir konvensional. Sehingga mereka sangat menggantungkan perekonomian dengan riba, karena mereka berpikir jika riba tidak dilaksanakan , maka sistem perbankan tidak akan jalan dan tidak akan berkembang.