Permulaan akan menyeret pada kesudahan. Yang sedikit akan mengajak pada yang banyak. Beradalah di sisi yang di situ ada Allah dan Rasul-Nya, sekalipun semua orang ada di sisi yang lain. Karena sikap itu akan mendatangkan kesudahan yang lebih terpuji dan lebih baik. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain sikap itu, di dunia dan akhiratnya” (Ibnul Qayyim Al Jauziah, Fawa’idul Fawa’id).

Kalimat tersebut memiliki makna yang cukup jelas bahwa dimanapun dan apapun yang kita lakukan haruslah dilandaskan atas kesadaran bahwa hanya untuk Allah lah kita berbuat. Hal ini diturunkan dalam bentuk niat yang dilanjuti oleh sebuah tindakan sehingga apa yang kita lakukan akan senantiasa dinilai ibadah oleh-Nya.

Selain hal tersebut, yang ingin saya garis bawahi adalah kalimat yang menerangkan bahwa “Permulaan akan menyeret pada kesudahan. Yang sedikit akan mengajak pada yang banyak”. Mungkin terkadang kita terlupa dengan hal-hal tersebut, Kita terkadang memulai sesuatu tanpa memaknai akan hakikat apa yang kita lakukan secara keseluruhan atau bisa dibilang kita memulai sesuatu dengan pandangan secara parsial. Serta terkadang kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang kecil akan berdampak besar sehingga hal ini membuat kita tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang kecil.

Sebagai contoh bahwa permulaan yang dimulai dengan hal kecil dapat berdampak besar pada dunia baca tulis Al-Qur’an. Hal ini terlihat dari seorang laki-laki yang lahir setahun sebelum Rasulullah hijrah, Abul Aswad Ad-Duali. Ia melakukan revolusi pada tanda baca Qur’an dengan cara menambahkan titik pada huruf Al-Qur’an. Dimana sebelum ia melakukan hal tersebut cukup banyak orang yang salah dalam membaca Al-Qur’an pada zaman Ali bin Abi Thalib. Dan dengan adanya revolusi tersebut lantas berkembang menjadi tanda baca yang sekarang.

Hal tersebut serupa dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Dimana perubahan terjadi dari hal-hal kecil. Hal-hal besarpun dihasilkan dari hal-hal kecil. Sehingga hal-hal kecil menjadi suatu hal yang tidak boleh disepelekan. Bahkan hal-hal yang kita kira kecil, dapat membuat kita menyesal ataupun bahagia. Hal ini terlihat dari hadis berikut ini:
“Seseorang dapat masuk surga hanya karena seekor lalat dan seseorang juga dapat masuk neraka karena seekor lalat.” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin itu bisa terjadi demikian?” Ia menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Kaum itu membuat peraturan bahwa tak seorangpun diperbolehkan melewatinya kecuali ia mau mempersembahkan sesuatu kepada berhala itu sebagai kkurban. Penduduk itu kemudian bertanya kepada salah seorang dari kedua orang tersebut, ‘Berkurbanlah!’, dia menajwab “Aku tidak mempunyai apa-apa untuk dikurbankan’. Mereka kemudian berkata kepadanya ‘Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat.’ Setelah dia berkurban dengan seekor lalat, mereka membiarkannya berlalu dan kelak orang ini masuk neraka. Mereka kemudian berkata kepada seorang yang lain lagi ‘Berkurbanlah!’, orang itu tidak mau berkurban. Lalu dikatakan, ‘Berkurbanlah, walau hanya dengan seekor lalat. Ia menjawab. ‘Aku tidak akan melakukan kurban sesuatupun melainkan hanya demi Allah.’ Penduduk kampung itu kemudian beramai-ramai memenggal lehernya dan kelak ia akan masuk surga.
Satu sikap yang dilakukan oleh salah seorang hamba Allah yang berkurban dengan lalat inilah yang menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dibandingkan dengan jarak antara timur dan barat.” (HR. Imam Ahmad).

Dari beberapa hal tersebut, alangkah indahnya jika dalam hidup ini kita dapat menyelaraskan antara hal-hal kecil dan hal-hal besar dengan berada di Jalan-Nya. Karena siapapun diri kita, kita tak bisa mengabaikan hal-hal tersebut. Tidak salah jika kita mulai belajar untuk bersikap bijak dalam menyikapi hal-hal yang mungkin kita anggap kecil. Karena bisa jadi hal-hal tersebut merupakan menjadi perkara yang cukup besar dalam hidup ini.