Berjalan seiring waktu…
Mentari senja kian tenggelam
Seiring dengan pudarnya tatapan temaram
Menandakan bahwa malam kan datang

Dan bulan pun datang
Sebagai peneman dalam gelapnya malam
Hingga ia pergi…
Berganti dengan indahnya mentari
sebagai tanda datangnya pagi

Seperti hidup,
Dimana kita membutuhkan penerang
Sebagai petunjuk…
hingga hidup,
menjadi bermakna

Namun…,
Jalan hidup merupakan sebuah pilihan
Kita dapat mencari benderang itu
Ataukah mengarungi gelapnya malam tanpa pelita

Saat kita mencari benderang itu,
Akan terasa sulit
karena ia tidak mudah kita dapatkan
Kala kita mendapatkannya
Tidak mudah untuk menjaganya…
Karena ia akan mudah padam
saat kita tidak berupaya untuk menjaganya…

Saat kita meninggalkan benderang itu,
Maka kehampaan kan merengkuh dalam jiwa
Layaknya langit malam…
Yang terlihat gelap gulita
tanpa bulan dan bintang.

Hingga tiba waktu,
Saat nafas telah tiada

Saat itu,
Kala kita memiliki benderang itu
seakan waktu terasa indah
Karena dengannya kita akan menemukan jalan
Yang membuat kita melangkah dijalan yang baik

Namun,
tanpa benderang itu,
maka waktu serasa menyesakkan
Seakan dimensi menjadi tak berpihak
Karena yang kita dapati jalan yang tak baik

marilah kita mencari dan menjaga benderang keimanan tersebut
Yang akan menjadi penerang dalam hidup ini,
Janganlah kita sia-siakan waktu ini,
karena ia adalah lembaran dimensi yang tak akan kembali…
Biarlah lelah dan perih kita dapati sekarang ini
Hingga kita dapati “janji indah” yang telah menanti
Saat kita berada di ujung senja…
Dan kita dapati kebahagiaan yang sebenarnya…