Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, hampir seluruh ummat Islam  mendatangi masjid-masjid dan lapangan-lapangan luas untuk mengumandangkan takbir dan tahmid dengan hati khusyuk dan tawaadhu’, Yaitu tidak lain dan tidak bukan berharap akan rahmat Allah

Di belahan bumi lain, Hari ini jutaan ummat Islam menjalani ritual ibadah haji ditanah suci . Mereka sedang mengambil pelajaran akan pengorbanan dua anak manusia yang dimuliakan Allah karena keteguhan tauhidnya yaitu Ibrahim dan Ismail a.s.

Pada hari ini, ribuan tahun yang lalu telah terjadi pengorbanan yang mutlak dari dua orang hamba Allah untuk menunjukkan keyakinan yang bulat atas keesaan Allah, dan meneguhkan dirinya sebagai hamba yang rendah dihadapan Allah robbul ’alamin . Inilah hari dimana seharusnya kita mempertanyakan seberapa jauh pengorbanan yang telah kita lakukan.

Kurban pada hari ini merupakan suatu ritual yang diperintakan Allah untuk mengukur tingkat keimanan kita dalam menundukan hawa nafsu duniawi sebagaimana besarnya pengorbanan nabi Ibrahim untuk menjalankan perintah Allah untuk mengurbankan anak yang telah dinanti-nantikan sejak lama sekali. Meski pada akhirnya, ketika penyembelihan dilakukan nabi Ismail diganti dengan seekor hewan kurban oleh Allah SWT.

Kurban adalah kewajiban sebagian besar dari kita. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: ”barang siapa mampu berkurban namun tidak melakukannya, maka janganlah sekali-kali mereka dekat-dekat tempat sholatku”.

Perenungan kita tentang pengorbanan Ibrahim a.s. dan puteranya Ismail a.s.. Ujian pengorbanan kedua Rasul Allah ini sangatlah berat . Sejak muda Ibrahim telah menerima ujian-ujian besar terhadap ketauhidannya, sampai pada usianya yang telah mencapai hampir 100 tahun barulah ia mendapatkan keturunan yang diberinya nama Ismail . Bayi Ismail ditinggalkan oleh Ibrahim dan Ibrahim baru menemuinya lagi pada keadaan Ismail telah menjadi remaja, betapa gembiranya ketika dilihatnya Ismail sebagai remaja yang gagah perkasa, taat kepada ayah dan ibunya, mampu bekerja membantu Ibrahim mencari nafkah . Dengan tiba-tiba Allah SWT memerintahkan Ibrahim menyembelih putra kebanggaan yang baru didapatnya setelah lama diharapkannya.

Ismail adalah harapan, kecintaan, dan putera ayahnya . Dalam kenikmatan besar yang dirasakan Ibrahim atas kehadiran puteranya, maka dengan tiba-tiba Allah memerintahkannya agar ia menyembelih putera yang dicintainya itu . Betapa guncangnya jiwa Ibrahim kala itu, dan pemimpin besar tauhid itu gemetar dan goyah seakan hendak roboh, hatinya hancur dan dirinya terpojok antara kecintaan terhadap buah hatinya dengan kesetiaannya kepada Tuhannya . Inilah peperangan bathin terbesar yang dialami Ibrahim a.s., belum pernah dalam sejarah hidupnya ia merasakan keraguan yang luar biasa seperti kala itu . Keraguan itu juga ditiupkan oleh syetan yang mempengaruhi hati Ibrahim dengan menyusupi logika-logika berpikir insaniah Ibrahim hingga akhirnya nabi Ibrahim mendapati mimpi yang sama hingga berkali-kali.

Dan disaat hendak menyampaikannya ia merasa ragu akan kesediaan anaknya, iapun merasakan betapa permintaannya itu akan mengejutkan anaknya . manusia macam apa aku ini seorang ayah hendak menyembelih anaknya yang ditunggu-tunggu kehadirannya setelah seratus tahun usianya . Rasionalitas maupun wahyu jelas-jelas menyatakan membunuh manusia adalah dosa besar apalagi membunuh anak sendiri . Namun atas ketaatannya yang mutlak kepada perintah Tuhannya, maka disampaikannya hal itu kepada Ismail .

Dalam sebuah dialog yang menggetarkan sebagaimana dijelaskan dalam surat As-Shoffat/37 : 102

berkatalah Ibrahim” wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu ?….” Ibrahim menyampaikan kata-katanya dengan cepat seolah-olah tak ingin mendengarnya, setelah itu ia membisu, wajahnya pucat, ia tidak mempunyai kekuatan menatap mata puteranya Ismail . Ismail menyadari gejolak hati ayahnya dan berusaha menenangkan hati ayahnya,

lalu Ismail menjawab: ”wahai ayahku yang tercinta, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan menjumpaiku termasuk dalam kelompok orang yang sabar”.

Kemudian nabi  Ibrahim segera mencabut pisaunya yang telah ditajamkan dan hendak menyembelih puteranya, ia ingin melakukannya dengan cepat karena tidak ingin berlama-lama merasakan kepedihan melihat Ismail yang terbaring dengan tenang menanti perlakuan ayahnya yang Percaya dengan segenap keyakinannya akan Perintah Allah. Namun ketika hendak memotong Ismail, Allah menggantinya dengan domba yang besar, karena Allah memberikan nilai yang tinggi atas ketaatan Ibrahim dan puteranya Ismail a.s. Allah tidak menghendaki Ibrahim menyembelih Ismail seperti pengorbanan yang dilakukan banyak manusia kepada dewa-dewa . Allah tidak mengijinkan manusia dikorbankan untuk keperluan sesembahan mereka . Yang diinginkan dalam kurban adalah kesediaan untuk melepas dan mengalahkan segala sesuatu yang menghambat penghambaan manusia hanya kepada Tuhannya,

sebagaimana firman Allah, ”Sekali-kali tidak akan mencapai Allah daging-dagingnya, dan tidak juga darah-darahnya, tetapi yang dapat mencapai adalah ketakwaan kamu . Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayahNya kepadamu . Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S.: Alhajj: 37)

Demikianlah berkurban dalam perspektif Islam adalah merupakan perwujudan dari ketakwaan kita kepada Allah untuk mengetahui seberapa besar kekuatan kita untuk menundukan nafsu duniawi.

Sumber: Berbagai sumber dan kuliah dhuha@masjid Sunda Kelapa,minggu,14 November 2010