Category: Islam


Memandang Dunia

Beberapa bahasan materi di suatu malam (18/3-11)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan babagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (28:77)”

Rasul bersabda: “Perumpamaan antara dunia dengan akhirat ibarat seorang diantara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang menempel padanya.” Lalu beliau member isyarat dengan telunjuknya (H.R Muslim, Tirmizi, Ahmad, Ibnu Majah)

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar , maka sekali-kali janganlah kehidupan memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah”(35:5)

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? (6:32)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azabyang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan palsu” (57:20)

Advertisements

Pelajaran dari 10 Dzulhijjah…

Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, hampir seluruh ummat Islam  mendatangi masjid-masjid dan lapangan-lapangan luas untuk mengumandangkan takbir dan tahmid dengan hati khusyuk dan tawaadhu’, Yaitu tidak lain dan tidak bukan berharap akan rahmat Allah

Di belahan bumi lain, Hari ini jutaan ummat Islam menjalani ritual ibadah haji ditanah suci . Mereka sedang mengambil pelajaran akan pengorbanan dua anak manusia yang dimuliakan Allah karena keteguhan tauhidnya yaitu Ibrahim dan Ismail a.s.

Pada hari ini, ribuan tahun yang lalu telah terjadi pengorbanan yang mutlak dari dua orang hamba Allah untuk menunjukkan keyakinan yang bulat atas keesaan Allah, dan meneguhkan dirinya sebagai hamba yang rendah dihadapan Allah robbul ’alamin . Inilah hari dimana seharusnya kita mempertanyakan seberapa jauh pengorbanan yang telah kita lakukan.

Kurban pada hari ini merupakan suatu ritual yang diperintakan Allah untuk mengukur tingkat keimanan kita dalam menundukan hawa nafsu duniawi sebagaimana besarnya pengorbanan nabi Ibrahim untuk menjalankan perintah Allah untuk mengurbankan anak yang telah dinanti-nantikan sejak lama sekali. Meski pada akhirnya, ketika penyembelihan dilakukan nabi Ismail diganti dengan seekor hewan kurban oleh Allah SWT.

Kurban adalah kewajiban sebagian besar dari kita. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: ”barang siapa mampu berkurban namun tidak melakukannya, maka janganlah sekali-kali mereka dekat-dekat tempat sholatku”.

Perenungan kita tentang pengorbanan Ibrahim a.s. dan puteranya Ismail a.s.. Ujian pengorbanan kedua Rasul Allah ini sangatlah berat . Sejak muda Ibrahim telah menerima ujian-ujian besar terhadap ketauhidannya, sampai pada usianya yang telah mencapai hampir 100 tahun barulah ia mendapatkan keturunan yang diberinya nama Ismail . Bayi Ismail ditinggalkan oleh Ibrahim dan Ibrahim baru menemuinya lagi pada keadaan Ismail telah menjadi remaja, betapa gembiranya ketika dilihatnya Ismail sebagai remaja yang gagah perkasa, taat kepada ayah dan ibunya, mampu bekerja membantu Ibrahim mencari nafkah . Dengan tiba-tiba Allah SWT memerintahkan Ibrahim menyembelih putra kebanggaan yang baru didapatnya setelah lama diharapkannya.

Ismail adalah harapan, kecintaan, dan putera ayahnya . Dalam kenikmatan besar yang dirasakan Ibrahim atas kehadiran puteranya, maka dengan tiba-tiba Allah memerintahkannya agar ia menyembelih putera yang dicintainya itu . Betapa guncangnya jiwa Ibrahim kala itu, dan pemimpin besar tauhid itu gemetar dan goyah seakan hendak roboh, hatinya hancur dan dirinya terpojok antara kecintaan terhadap buah hatinya dengan kesetiaannya kepada Tuhannya . Inilah peperangan bathin terbesar yang dialami Ibrahim a.s., belum pernah dalam sejarah hidupnya ia merasakan keraguan yang luar biasa seperti kala itu . Keraguan itu juga ditiupkan oleh syetan yang mempengaruhi hati Ibrahim dengan menyusupi logika-logika berpikir insaniah Ibrahim hingga akhirnya nabi Ibrahim mendapati mimpi yang sama hingga berkali-kali.

Dan disaat hendak menyampaikannya ia merasa ragu akan kesediaan anaknya, iapun merasakan betapa permintaannya itu akan mengejutkan anaknya . manusia macam apa aku ini seorang ayah hendak menyembelih anaknya yang ditunggu-tunggu kehadirannya setelah seratus tahun usianya . Rasionalitas maupun wahyu jelas-jelas menyatakan membunuh manusia adalah dosa besar apalagi membunuh anak sendiri . Namun atas ketaatannya yang mutlak kepada perintah Tuhannya, maka disampaikannya hal itu kepada Ismail .

Dalam sebuah dialog yang menggetarkan sebagaimana dijelaskan dalam surat As-Shoffat/37 : 102

berkatalah Ibrahim” wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu ?….” Ibrahim menyampaikan kata-katanya dengan cepat seolah-olah tak ingin mendengarnya, setelah itu ia membisu, wajahnya pucat, ia tidak mempunyai kekuatan menatap mata puteranya Ismail . Ismail menyadari gejolak hati ayahnya dan berusaha menenangkan hati ayahnya,

lalu Ismail menjawab: ”wahai ayahku yang tercinta, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan menjumpaiku termasuk dalam kelompok orang yang sabar”.

Kemudian nabi  Ibrahim segera mencabut pisaunya yang telah ditajamkan dan hendak menyembelih puteranya, ia ingin melakukannya dengan cepat karena tidak ingin berlama-lama merasakan kepedihan melihat Ismail yang terbaring dengan tenang menanti perlakuan ayahnya yang Percaya dengan segenap keyakinannya akan Perintah Allah. Namun ketika hendak memotong Ismail, Allah menggantinya dengan domba yang besar, karena Allah memberikan nilai yang tinggi atas ketaatan Ibrahim dan puteranya Ismail a.s. Allah tidak menghendaki Ibrahim menyembelih Ismail seperti pengorbanan yang dilakukan banyak manusia kepada dewa-dewa . Allah tidak mengijinkan manusia dikorbankan untuk keperluan sesembahan mereka . Yang diinginkan dalam kurban adalah kesediaan untuk melepas dan mengalahkan segala sesuatu yang menghambat penghambaan manusia hanya kepada Tuhannya,

sebagaimana firman Allah, ”Sekali-kali tidak akan mencapai Allah daging-dagingnya, dan tidak juga darah-darahnya, tetapi yang dapat mencapai adalah ketakwaan kamu . Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayahNya kepadamu . Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S.: Alhajj: 37)

Demikianlah berkurban dalam perspektif Islam adalah merupakan perwujudan dari ketakwaan kita kepada Allah untuk mengetahui seberapa besar kekuatan kita untuk menundukan nafsu duniawi.

Sumber: Berbagai sumber dan kuliah dhuha@masjid Sunda Kelapa,minggu,14 November 2010

Sekilas tentang Sedekah…

Beberapa Hal Tentang Sedekah:

1. Bersedekah adalah atas HARTA yang DICINTAI

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu KEBAJIKAN, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah BERIMAN kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan MEMBERIKAN HARTA yang DICINTAINYA kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan SHALAT, dan menunaikan ZAKAT; dan orang-orang yang MENEPATI JANJInya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang SABAR dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang BENAR (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang BERTAKWA”. (QS. Al-Baqarah: 177)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada KEBAJIKAN (yang sempurna), sebelum kamu MENAFKAHKAN sebahagian HARTA yang kamu CINTAI. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran : 92)

2. Bersedekah terhadap orang yang BERHUTANG
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah TANGGUH sampai dia berkelapangan. Dan MENYEDEKAHKAN (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”. (QS. Al-Baqarah: 280)

3. Kepada BINATANG saja bernilai SEDEKAH, apalagi MANUSIA.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Pada suatu hari yang terik, ada seorang wanita PELACUR melihat seekor ANJING sedang mengelilingi sebuah sumur. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Si pelacur lalu membuka sepatunya dan mengisinya dengan air sumur tersebut lalu diberikan kepada anjing tersebut. Wanita itu dimapuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

4. Walau SEDIKIT atau BERKATA-KATA BAIK saja adalah SEDEKAH yang akan MENYELAMATKAN dari API NERAKA.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Jauhilah api neraka meskipun hanya (bersedekah) dengan SEPAROH KURMA. Jika kamu tidak menemukannya, maka (cukup) dengan KATA-KATA yang BAIK.”
[HR. Bukhari (6023), Muslim (7/101), Ahmad, (4/256), Nasa’i (5/75), Darimi (1390), Baihaqi (1/390) dalam kitabnya sunan kubra]

5. Setiap MUSLIM BISA Bersedekah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “‘SETIAP MUSLIM bersedekah.’
Para shahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, bagaimana jika TIDAK MAMPU?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘BEKERJALAH dengan tangan sendiri sehingga BERMANFAAT bagi dirinya, lalu ia BERSEDEKAH.’
Para shahabat bertanya, ‘Bagaimana jika TIDAK MAMPU?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘MENOLONG orang yang mempunyai kebutuhan dan yang sedang susah.’
Para shahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana jika dia TIDAK DAPAT melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘MEMERINTAHKAN berbuat BAIK atau berbuat makruf.’
Para shahabat bertanya lagi, ‘Jika dia TIDAK DAPA melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘MENAHAN DIRI dari berbuat buruk, maka hal itu merupakan SEDEKAH bagi DIRINYA.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

6. SENYUM, DZIKIR, DAKWAH dan SHOLAT adalah SEDEKAH
Rasulullah SAW bersabda:
“SENYUMMU di hadapan wajah SAUDARAMU adalah SEDEKAH” (Al Hadits)

Walau dengan berdzikir, amar ma’ruf nahi munkar dan sholat.
Abu Dzar r.a. berkata : Nabi saw bersabda : Pada tiap pagi ada kewajiban pada tiap-tiap persendian untuk bersedekah. Dan tiap TASBIH itu sedekah, dan tiap TAHLIL (La ilaha Illallah) itu sedekah, dan tiap TAHMID itu sedekah, dan tiap TAKBIR itu sedekah, dan MENGANJURKAN KEBAIKAN itu sedekah, dan MENCEGAH KEMUNGKARAN itu sedekah, dan CUKUP untuk menggantikan semua itu 2 raka’at sunnat DLUHA.(HR. Muslim)

7. Kepada siapa BERSEDEKAH ?
“ Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka INFAKKAN. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu INFAKKAN hendaklah diberikan kepada IBU-BAPAK, kaum KERABAT, anak-anak YATIM, orang-orang MISKIN dan orang-orang yang sedang dalam PERJALANAN (MUSAFIR).” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 215)

8. BERSEDEKAH Fi Sabilillah adalah memberikan PINJAMAN yang BAIK kepada Allah SWT.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Siapakah yang mau memberi PINJAMAN kepada Allah, pinjaman yang BAIK (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan LIPAT GANDA yang BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”. (QS. Al-Baqarah: 245)

9. SEDEKAH adalah Tanda KETAKWAAN
Shadaqah adalah tanda dan ciri ketaqwaan seorang muslim.Allah -Ta’ala- berfirman,
“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang BERTAQWA,. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan MENAFKAHKAN sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka“. (QS. Al Baqarah : 2-3)

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang BERTAQWA, (yaitu) orang-orang yang MENAFKAHKAN (hartanya), baik di waktu LAPANG maupun SEMPIT, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 133-134)

10. BERSEDEKAHLAH Selagi BISA Sebagai BEKAL Menuju Akhirat
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, BELANJAKANLAH (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang Telah kami berikan kepadamu SEBELUM datang HARI yang pada hari itu TIDAK ADA LAGI jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zhalim“. (QS. Al Baqarah : 254)

11. Shadaqah Adalah PERISAI Dari Neraka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Handaknya salah seorang diantara kalian MELINDUNGI wajahnya dari NERAKA, sekalipun dengan SEBELAH BIJI KURMA”. [HR. Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]

12. Shadaqah PENGHAPUS Kesalahan
Setiap anak cucu adam tidak lepas dari kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab yang dengannya bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan dari anak cucu adam dan sebab tersebut adalah dengan bershadaqah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Shadaqah itu MEMADAMKAN (menghapuskan) KESALAHAN sebagaimana AIR memadamkan API” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

13. Shadaqah PELINDUNG Di Padang Mahsyar
Ketika manusia menanti keputusan di padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing. Manusia pada saat itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Matahari didekatkan dengan jarak satu mil, pada saat itulah seseorang sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Setiap orang berada dalam NAUNGAN SHADAQAHNYA hingga diputuskan perkara di antara manusia“. [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]

14. Shadaqah PEMADAM Panas Di Alam Kubur
Beliau bersabda :
“Sesungguhnya shadaqah akan MEMADAMKAN PANASNYA kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir, dan Al-Baihaqiy. Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]

15. Shadaqah Adalah Sebab MALAIKAT MENDOAKAN Seseorang
Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah GANTI bagi orang yang BERINFAQ”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah KEHANCURAN bagi orang yang MENAHAN INFAQ.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]

16. Termasuk Tujuh Golongan yang DINAUNGI

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang
benar”.(QS.An-Naba’: 38)

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jatsiyah: 28)

Belum lagi matahari didekatkan dengan sedekat-dekatnya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, Ketika itulah para hamba menunggu dan mengharapkan perlindungan dan naungan dari Rabb-nya. Diantara golongan yang mendapatkan naungan saat itu, orang yang ikhlas bershodaqoh.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan Allah….seseorang yang BERSHODAQAH dengan suatu shadaqoh yang ia RAHASIAKAN sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah dishadaqohkan oleh tangan kanannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)]